Heritabiltias karakter agronomi galur-galur mutan kacang hijau (Vigna radiata) pada kondisi kekeringan

Abstrak

Salah satu dampak dari pemanasan global adalah kekeringan. Kerugian yang ditimbulkan akibat kekeringan adalah penurunan produktivitas komoditas pertanian. Untuk mencegah besarnya kerugian akibat kekeringan, perlu dirakit varietas yang toleran kekeringan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai heritabilitas karakter-karakter agronomi dari galur-galur mutan kacang hijau pada kondisi kekeringan. Sembilan galur mutan kacang hijau dan tetuanya (varietas Gelatik) dievaluasi di Kebun Percobaan Muneng, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada Musim Kemarau I bulan Mei – Juni 2012. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Setiap galur ditanam pada plot berukuran 4 x 5 m, dengan jarak tanam 40 x 20 cm. Pemupukan sesuai rekomendasi yaitu 75 kg/ha Urea, 100 kg/ha TSP dan 100 kg/ha KCl. Pengairan hanya diberikan satu kali pada saat tanam untuk mengkondisikan cekaman kekeringan. Pengamatan terhadap 5 tanaman contoh dilakukan untuk karakter jumlah stomata, tinggi tanaman saat panen, panjang akar, bobot akar, jumlah polong, jumlah biji per polong, bobot biji per tanaman, dan bobot 100 biji, sedangkan pengamatan terhadap plot dilakukan untuk karakter umur masak polong dan hasil per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Continue reading

Daya hasil galur-galur kedelai toleran kutu kebul (Bemisia tabaci)

Abstract

Kutu kebul merupakan salah satu hama utama dalam budidaya kedelai di Indonesia. Sampai saat ini belum ada varietas kedelai yang khusus dilepas dengan keunggulan tahan terhadap kutu kebul. Hasil kegiatan evaluasi ketahanan galur-galur kedelai terhadap kutu kebul yang telah dilakukan sejak tahun 2010, diperoleh 12 galur kedelai yang diduga memiliki ketahanan terhadap kutu kebul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil galur-galur kedelai toleran kutu kebul. Sebanyak 17 genotipe kedelai terdiri dari 12 galur dan lima varietas pembanding (Kaba, Tanggamus, Detam 1, Anjasmoro, dan Argomulyo) diuji daya hasilnya pada kondisi tercekam kutu kebul di KP Muneng, Kab. Probolinggo selama dua musim tanam yaitu pada MK I 2011 dan MK II 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok diulang tiga kali. Tidak dilakukan pengendalian terhadap hama kutu kebul untuk mengkondisikan tanaman tercekam kutu kebul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Continue reading

Selection of soybean lines (Glycine max) tolerant to drought

Abstract

The cropping pattern of soybean in low land in Indonesia usually follows rice-rice-soybean or rice-soybean-soybean. In these conditions, the soybean growing season falls during the dry season. As a result, drought stress will occur in soybean cultivation. The risk of drought stress will increase with global warming. Losses caused by drought are decreasing in productivity of soybean. Drought tolerant varieties are necessarily to prevent yield losses. The purpose of this study was to identify soybean lines tolerant to drought. A total of 85 soybean lines from F5 generation population were tested in Muneng Experimental Station, Probolinggo district, East Java from July to September 2013. Six soybean genotypes namely: Deriing 1, Tidar, Grobogan, ARG/GCP-335, Tanggamus, and SU-17-1014 were used as check. The augmented design was applied. All of them were planted in five different blocks. Each block containing 17 lines and 6 genotypes of soybean were planted randomly. Fertilization was conducted according to the dosage recommendation i.e. 100 kg ha-1 of Urea, 75 kg ha-1 of SP36, and 75 kg ha-1 of KCl. All fertilizers were given at planting. Irrigation was only given at planting and during flowering for drought stress condition during the reproductive phase. The results showed that Continue reading

Preferensi petani terhadap karakter kedelai di Desa Mekarjaya, Kec. Baito, Kab. Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara

Abstrak

Kedelai merupakan tanaman pangan fungsional dan sumber protein penting di Indonesia. HIngga saat ini, kegiatan pertanian kedelai masih terfokus di Pulau Jawa. Pulau Sulawesi yang ditopang dengan agroekologi spesifik (zona barat dan timur memiliki iklim berbeda), memungkinkan untuk dijadikan lumbung kedelai nasional. Sebanyak 75 varietas kedelai telah dilepas oleh pemerintah. Varietas-varietas unggul kedelai yang telah dihasilkan memiliki beragam kelebihan, namun belum banyak diadopsi pengguna karena tidak sesuai dengan karakteristik yang diinginkan pengguna (petani, pasar). Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui karakteristik kedelai yang disukai petani, 2) mengetahui varietas unggul kedelai yang banyak diadopsi petani, 3) mengetahui daya hasil varietas unggul kedelai yang ditanam. Penelitian dilaksanakan di Desa Mekarjaya, Kec. Baito, Kab. Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara dari bulan Juni – Agustus 2013. Sebanyak 8 varietas kedelai (Kaba, Anjasmoro, Detam 1, Wilis, Detam 2, Gema, Grobogan, dan Argomulyo) digunakan pada penelitian ini. Kegiatan penelitian berupa demplot, masing-masing varietas ditanam pada plot berukuran 5 x 10 m. Budidaya tanaman kedelai yang digunakan adalah budidaya petani setempat. Hasil penelitian menunjukkan Continue reading

Preferensi petani dalam memilih varietas kedelai di Desa Telulimpoe, Kec. Marioriawa, Kab. Soppeng, Sulawesi Selatan

Abstrak

Kelangkaan kedelai yang terjadi baru-baru ini disebabkan karena berkurangnya jumlah kedelai impor dan sedikitnya produksi nasional. Kedelai dalam negeri kurang diminati karena petani beranggapan bahwa ukuran bijinya kurang sesuai untuk industri tempe dan tahu. Hal ini terjadi karena sedikitnya pengetahuan petani tentang varietas unggul baru kedelai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerimaan petani terhadap varietas unggul kedelai di Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan di Desa Telulimpoe, Kec. Marioriawa, Kab. Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan dari bulan April-Juli 2013. Sebanyak 8 varietas kedelai (Kaba, Anjasmoro, Detam 1, Wilis, Detam 2, Gema, Grobogan, dan Argomulyo) digunakan pada penelitian ini. Kegiatan penelitian berupa demplot, masing-masing varietas ditanam pada plot berukuran 5 x 10 m. Budidaya tanaman kedelai yang digunakan adalah budidaya petani setempat. Hasil kuisioner menunjukkan bahwa  Continue reading

Karakterisasi komponen hasil plasma nutfah kedelai

Abstrak

Plasma nutfah sangat diperlukan dalam pembangunan pertanian terutama dalam perbaikan varietas yang sesuai dengan perkembangan lingkungan yang bersifat biotik maupun abiotik. Perakitan varietas tersebut hanya dapat dilakukan bila tersedia keragaman dari plasna nutfah yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi karakter komponen hasil plasma nutfah kedelai. Penelitian dilaksanakan di KP Kendalpayak, Malang pada MK I tahun 2010. Sebanyak 96 aksesi kedelai dikarakterisasi pada kegiatan ini. Setiap aksesi ditanam pada baris tunggal sepanjang 10 m dengan jarak tanam 1 m antar baris dan 5 cm dalam baris (200 biji/baris). Setelah umur 3 MST diperjarang hingga tersisa 50 tanaman/baris. Pemupukan sesuai rekomendasi yaitu 50 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP36, dan 75 kg/ha KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Continue reading

Peranan plasma nutfah kedelai pada program pemuliaan kedelai di Indonesia

Abstrak

Keberhasilan suatu program pemuliaan tanaman ditentukan oleh tersedianya keragaman genetik dalam suatu populasi. Salah satu cara untuk mendapatkan keragaman genetik adalah melalui pengumpulan plasma nutfah. Secara umum, plasma nutfah digolongkan ke dalam lima jenis, yaitu plasma nutfah elit, plasma nutfah hasil perbaikan genetik, varietas lokal, spesies liar, dan stok genetik. Pemuliaan tanaman kedelai di Indonesia pada umumnya banyak memanfaatkan jenis plasma nutfah elit. Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, Continue reading

Evaluasi ketahanan 8 varietas kedelai terhadap kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.))

Abstrak

Kutu kebul (Bemisia tabaci) merupakan salah satu hama pengisap daun yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80% pada kedelai. Informasi ketahanan terhadap kutu kebul dari varietas kedelai yang telah dirilis di Indonesia belum banyak diketahui, kecuali varietas Tengger yang tergolong cukup tahan terhadap hama ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan 8 varietas kedelai terhadap hama kutu kebul. Penelitian dilaksanakan di KP Muneng, Kab. Probolinggo pada MK II tahun 2012. Sebanyak 8 varietas kedelai (Kaba, Tanggamus, Detam 1, Anjasmoro, Argomulyo, Grobogan, Gepak Ijo, dan Gema) diuji ketahanannya terhadap kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.). Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak diulang tiga kali. Setiap varietas ditanam pada plot berukuran 2 x 3 m, jarak tanam 40 x 10 cm, dua biji/lubang. Pemupukan sesuai rekomendasi, pengairan dan penyiangan sesuai kebutuhan di lapangan, dan tidak dilakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit. Pengamatan dilakukan terhadap populasi kutu kebul, intensitas kerusakan daun, tebal daun, panjang trikoma, kerapatan trikoma, dan hasil per plot. Untuk menghitung persentase penurunan hasil, satu set materi yang sama ditanam pada waktu dan lokasi yang sama namun dengan pengendalian hama secara optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Continue reading

Daya hasil galur-galur mutan kacang hijau

Abstrak

Kacang hijau merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penting di Indonesia, menduduki peringkat kelima setelah padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah. Namun, laju perkembangan kacang hijau di Indonesia tergolong lambat, karena sedikitnya varietas kacang hijau yang dilepas. Perakitan varietas unggul baru kacang hijau perlu dilakukan guna memenuhi kebutuhan konsumsi kacang hijau nasional. Sebanyak 9 galur mutan kacang hijau dan dua varietas pembanding (Gelatik dan Perkutut) diuji daya hasilnya di KP Jambegede, Malang dan KP Muneng, Probolinggo pada MK I tahun 2011. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan empat kelompok sebagai ulangan di masing-masing lokasi. Pemupukan sesuai rekomendasi yaitu 75 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP36, dan 100 kg/ha KCl diberikan seluruhnya saat tanam. Pengamatan dilakukan terhadap umur panen, tinggi saat panen, jumlah polong per tanaman, panjang polong, berat 100 biji, dan hasil biji per plot. Hasil analisis data menunjukkan bahwa Continue reading

Keragaan klon-klon ubijalar berkadar antosianin tinggi (ubi ungu) di Kabupaten Jayapura dan Merauke, Papua

ABSTRAK

Varietas ubijalar yang banyak mengandung antosianin adalah yang umbinya berwarna ungu atau gelap. Varietas tersebut, selain sebagai bahan pangan juga memiliki peran penting dalam kesehatan. Antosianin dalam ubijalar mempunyai berbagai fungsi kegunaan bagi tubuh seperti sebagai anti oksidan, anti hipertensi, pencegahan gangguan dan fungsi hati, penawar racun, mencegah sembelit, membantu menyerap kelebihan lemak dalam darah dan zat pewarna alami pada berbagai makanan sertadapat menghalangi munculnya sel kanker. Penelitian dilaksanakan di desa Besum kecamatan Besum, Kabupaten Jayapura dan Merauke, Papua menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan 40 perlakuan. Perlakuan terdiri klon-klon ubijalar berpotensi hasil tinggi dengan kadar antosianin tinggi seri persilangan 2010 dan sebagai varietas pembanding digunakan varietas Ayamurasaki. Setiap klon ditanam pada plot seluas 15 m2, dengan jarak tanam 100 cm X 75 cm dan 1 bibit per lubang tanam. Pengolahan tanah, pengendalian gulma, hama dan penyakit dan teknologi budidaya lainnya sesuai dengan rekomendasi, sedangkan dosis pemupukan yang diberikan adalah 45 Kg N + 36 kg P2O5 dan 60 kg K2O per hektar. Parameter yang diamati meliputi: Produksi umbi, berat berangkasan, indek panen, warna kulit dan daging umbi, level antosianin (secara visual), bahan kering umbi, jumlah dan berat umbi per tanaman, rengkah, panjang dan diameter umbi, keseragaman bentuk dan ukuran umbi dan tingkat serangan hama/penyakit utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Continue reading